Anak Didik Sebagai Faktor Pendidikan

ANAK DIDIK SEBAGAI FAKTOR PENDIDIKAN
FERDIAN HIDAYAT

Institut Agama Islam Negri Madura
Abstrak:
Anak didik merupakan individu yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang memerlukan bimbingan. Dalam hal ini ada tiga aliran yang membahas tentang nak didik. Nativisme menjelaskan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh potensi sejak lahir dan lingkungan tak dapat merubahnya. Sedangkan aliran Empirisme menjelaskan bahwa manusia sa-ngat dipengaruhi dan ditentukan oleh lingkungan alam sekitarnya. Aliran Konvergensi menjelaskan bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya sangat menentukan perkembangan manusia. Dalam padangan al-Qur’an fitrah manusia diberikan Allah sebagai bawaan dari lahir tetap memerlukan proses interaksi dari lingkungan sekitar secara dinamis.
Kata Kunci: Anak didik, Perkembangan, dan Lingkungan
Abstract:
Students are individuals who experience growth and development that require guidance. In this case there are three schools that discuss about students. Nativism explains that human development is determined by potential from birth and the environment cannot change it. While the Empiricism flow explains that humans are very influenced and determined by the surrounding natural environment. The Convergence flow explains that nature and environment both determine human development. In the view of the Qur'an the human nature is given by Allah as a default from birth, it still requires a dynamic process of interaction from the surrounding environment.
Pendahuluan
Manusia adalah subyek dan objek pendidikan, manusia dewasa yang berkebu-dayaan adalah subyek pendidikan dalam arti yang bertanggung jawab menyeleng-garakan pendidikan. Mereka berkewajiban secara moral atas perkembangan pribadi anak-anak mereka, generasi penerus mereka, manusia dewasa yang berkebudayaan terutama yang berpotensi keguruan (pendidikan) bertanggung jawab formal untuk melaksanakan misi pendidikan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang dikehen-daki oleh masyarakat bangsa itu.
Dalam belajar mengajar, guru dan murid memegang peranan penting. Murid atau anak didik adalah pribadi yang unik yang mempunyai potensi dan mengalami proses berkembang. Dalam proses berkembang itu anak atau murid membutuhkan bantuan yang sifat dan coraknya tidak ditentukan oleh guru tetapi oleh anak itu sen-diri, dalam suatu kehidupan bersama dengan individu-individu yang lain.
Dalam pendidikan Islam, peserta didik dimaknai sebagai manusia yang sepan-jang hidupnya selalu berada dalam perkembangan. Perkembangan yang dimaksud dalam hal ini bukan hanya pada segi eksternal melainkan juga perkembangan inter-nal. Jadi, anak-anak yang sedang dalam pengasuhan dan pengasihan orang tuanya, dan juga pada anak-anak dalam usia sekolah. Tidaklah cukup untuk membantu per-kembangan anak-didik, tetapi juga kepada seluruh komponen penunjang terlaksana-nya pendidikan.
Dalam kajian ini bertujuan untuk mengetahui apa pengertian anak didik? Bagaimana pandangan aliran nativisme, empirisme, dan konvergensi tentang anak didik/peserta didik? Bagaimana eksistensi fitrah sebagai potensi dasar peserta didik (anak didik)?. Setelah membaca penulis berharap pendidik akan lebih memperhatikan  anak didiknya.

Pembahasan
Pendidikan ibarat uang logam, selalu memiliki 2 (dua) sisi. Satu pihak bertugas mengajar, sedangkan pihak lain tugasnya belajar. Satu sisi memberi, sisi lain mene-rima. Anak didik merupakan salah satu dari dua sisi tersebut yang memiliki tugas menerima konsep pendidikan agar dalam dirinya terbentuk insan muslim yang tahu akan Tuhan dan agamanya. Demikian pula ia harus memiliki akhlak al-Qur’an, ber-sikap dan bertindak sesuai dengan kaidah al-Qur’an, berpikir dan berbuat demi ke-pentingan umat.[1]
Pengertian Peserta Didik /Anak Didik
Anak didik dalam pendidikan Islam adalah anak yang sedang tumbuh dan ber-kembang baik secara fisik dan psikologis untuk mencapai tujuan pendidikan melalui lembaga pendidikan. Manusia yang belum dewasa (anak didik), dalam proses per-kembangan pribadinya, baik menuju pembudayaan maupun proses kematangan dan integritas, adalah objek pendidikan. Artinya mereka adalah sasaran atau “bahan” yang dibina.[2]
Pengertian tersebut memberikan arti bahwa anak didik/peserta didik adalah anak yang belum dewasa, yang dalam artian mencerminkan keinginan untuk tumbuh dan berkembang dari orang lain untuk menjadi dewasa. Anak kandung adalah anak didik keluarga, murid/siswa adalah anak didik di sekolah, anak-anak penduduk ada-lah anak didik masyarakat di sekitarnya, dan anak umat beragama adalah menjadi anak didik kerohanian agama. Ini menandakan bahwa keseluruhan anak tersebut sa-ngat tergantung pada orang dewasa yang harus memahaminya sebagai orang yang sangat membutuhkan bantuan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan pe-ngertian dan tujuan pendidikan Islam.
Aliran Nativisme
Nativisme berasal dari kata native artinya asli atau asal.[3] Aliran ini hampir sena-da dengan Naturalisme. Nativisme berpendapat bahwa sejak lahir anak telah memi-liki/membawa sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu, yang bersifat pembawaan atau ke-turunan. Sifat-sifat dan dasar-dasar tertentu yang bersifat keturunan (herediter) inilah yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan anak sepenuhnya. Sedangkan pendidikan dan lingkungan boleh dikatakan tidak berarti, kecuali hanya sebagai wa-dah dan memberikan rangsangan saja.[4] Dalam ilmu pendidikan, pandangan tersebut dikenal dengan pesimisme paedagogis. Tokoh utama aliran ini ialah Schopenhauer. Da-lam artinya yang terbatas, juga dapat dimasukkan dalam golongan Plato, Descartes, Lomborso, dan pengikut-pengikutnya yang lain.
Aliran Empirisme
Tokoh utama aliran ini ialah John Locke. Ia berpendapat bahwa perkembangan anak menjadi manusia dewasa itu sama sekali ditentukan oleh lingkungannya atau oleh pendidikan dan pengalaman yang diterimanya sejak kecil. Manusia-manusia da-pat dididik apa saja (ke arah yang baik dan ke arah yang buruk) menurut kehendak lingkungan atau pendidikan. Dalam hal ini, alamlah yang membentuknya. Dalam pendidikan, pendapat kaum empiris ini terkenal dengan nama optimisme paedagogis.[5]
Aliran Konvergensi
Aliran ini dimunculkan oleh ahli ilmu jiwa bangsa Jerman, William Stern. Ia mengatakan bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya menentukan perkem-bangan manusia.[6]
Dengan adanya pendapat ini, dapat dikatakan bahwa persoalan tentang pemba-waan dan lingkungan itu sudah selesai. Dalam hukum konvergensi ini, masih terda-pat dua aliran, yaitu aliran yang lebih menekankan kepada pengaruh pembawaan da-ripada pengaruh lingkungan dan yang sebaliknya, lebih menekankan lingkungan atau pendidikan. Sementara itu, banyak yang belum puas atas jawaban dari aliran konvergensi yang mengatakan bahwa perkembangan manusia itu ditentukan dari dua factor: pembawaan dan lingkungan.
Penutup
Anak didik adalah anak yang masih tidak tahu apa-apa dan masih memerlukan bimbingan dari pada pendidik. Anak didik juga di artikan ank yang masih belum dewasa dari segi fisik, mental, dan fikiran. Untuk itu untuk mencapai tujuannya anak didik memerlukan bantuan bimbingan dari pendidik.
Faktor pembawaan anak didik/peserta didik ditinjau dari tiga aliran yaitu: Nativisme berpendapat bahwa segala perkembangan manusia itu telah diten-tukan oleh potensi sejak lahir dan lingkungan tak dapat merubahnya. Empirisme berpendapat bahwa manusia menjadi dewasa sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh lingkungan alam sekitarnya. Konvergensi berpendapat bahwa pembawaan dan lingkungan kedua-duanya sangat menentukan perkembangan manusia.
Daftar Pustaka
D. Marimba, Ahmad. Pengantar Filsafat Pendidikan. Cet. VIII; Bandung: PT. Al-Maarif, 1989.
Getteng, A. Rahman. Pendidikan Islam Dalam Pembangunan. Ujung Pandang: Yayasan al-Ahkam, 1977
Muhammad ‘Isa, Kamal. Manajemen Pendidikan Islam. Cet. I; Jakarta: Fikahati Aneska, 2004.
Purwanto, M. Ngalim. Psikologi Pendidikan. Cet. XX; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004.
Suryabrata, Sumadi. Psikologi Pendidikan. Cet. XI; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002.
Tadjab. Ilmu Jiwa Pendidikan. Cet. I; Surabaya: Karya Abditama, 1994.




[1] Kamal Muhammad ‘Isa,  Manajemen Pendidikan Islam, Cet. I; Jakarta: Fikahati Aneska, 2004, hlm. 79.
[2] A. Rahman Getteng,  Pendidikan Islam dalam Pembangunan, Ujung Pandang: Yayasan al-Ahkam, 1977, hlm. 11.
[3] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan, Cet. VIII; Bandung: PT. Al-Maarif, 1989, hlm. 35.
[4] Tadjab, Ilmu Jiwa Pendidikan, Cet. I; Surabaya: Karya Abditama, 1994, h. 20-21.
[5] Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Cet. XI; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002, hlm. 178.
[6] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Cet. XX; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2004, hlm. 21.

Komentar